Kamis, 28 April 2011

Sains dan Islam


Sesuatu yang sangat umum didengar adalah sains. Dewasa ini sains mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia, baik berupa produk berupa teknologi maupun kajian-kajian ilmiah lainnya. Dengan kata lain, hampir seluruh kehidupan manusia berhubungan dengan sains.
Kemudian, apa sebenarnya sains itu?? Untuk apa keberadaan sains?? Dan bagaimana Islam menyikapi perkembangan sains??
Kata sains berhungan dengan ilmu pengetahuan atau sering disamakan merupakan suatu proses pembelajaran dan pembuktian. Proses pembelajaran sendiri dapat dilakukan dengan menuntut ilmu, eksperimen maupun studi lietratur Pembuktian dari sains dilakukan dengan metode ilmiah. Tahapan yang dilalui pun cukup panjang untuk mencapai kebenaran sains itu sendiri. Seringkali saintis (orang yang bekerja di bidang sains) beranggapan bahwa apa yang ditemukannya, yang ditelitinya, dan yang dirumuskannya dianggap kepunyaan dirinya. Mengakibatkan dirinya seolah-olah berasa paling benar dan hebat. Kejadian seperti ini seringkali mengakibatkan penyalahgunaan kemajuan sains dan teknologi untuk keperluan yang dapat merugikan orang banyak. Munculnya sikap idealis dan menganggap orang lain disekitarnya tidak lebih baik dari dirinya mengakibatkan muncul ketidakpercayaan terhadap orang lain, seolah-olah memberi kesan tertutup.
Prilaku-prilaku yang menyimpang tersebut seharusnya tidak terjadi kalau saja kemajuan sains itu diimbangi dengan kekuatan fondasi agama. Nantinya kemajuan sains dan teknologi itu diperuntukkan untuk pengembangan dan kebaikan umat manusia. Namun, kenyataannya ilmu agama seringkali menjadi nomor dua, sehingga sifat-sifat yang merugikan tersebut diatas dengan mudahnya terjadi.
Kemudian bagaimana Islam menyikapi kemajuan sains dan teknologi?? Islam tidak menutup mata terhadap kemajuan sains dan teknologi. Islam menuntut pemelukya untuk mencari dan menggali berbagai ilmu pengetahuan. Bahkan wahyu  Al Quran
yang pertama diturunkan pada Surat Al-‘Alaq menerangkan konsep belajar dan membaca. Arti kata qalammenuntut pada proses belajar, secara lebih luas dapat diartikan proses pemindahan ilmu, diskusi ilmu maupun transfer ilmu.
Dalam Al Quran juga dijelaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah dikarenakan oleh dua hal, imannya dan ilmunya. Bahkan Allah akan meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu. Dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bodoh, atau tidak mengajarkan umatnya senantiasa menerima atau konsumen produk-produk ilmu pengetahuan dan sains. Lebih jaun Islam menuntut umatnya untuk berada digaris terdepan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Dengan firman-firman Allah Swt tentang menuntut ilmu, seharusnya membuat umat manusia terbuka matanya untuk senantiasa bergerak maju dan proaktif dalam perkembanga ilmu pengetahuan dan sains.
Iman dan ilmu merupakan suatu yang tidak terpisahkan. Bayangkan orang sholat yang tidak disertai ilmu tentang rukun sholat, syarat sah sholat dan pengetahuan hal-hal yang membatalkan sholat, bayangkan bagaimana sholatnya. Atau seseorang yang hanya berpuasa tetapi tidak tau prinsip berpuasa yang baik pastinya ibadahnya terasa sia-sia atau bahkan percuma. Dari ilustrasi diatas dapat dipahami umat Islam itu wajib hukumnya menuntut ilmu. Paradigma Islam mengajukan konsep bahwa agama adalah pengatur dan pondasi dasar kehidupan. Agama berada posisi paling tertinggi untuk menyikapi berbahai hal. Konsep dasarnya adalah aqidah islam, dimana untuk membentuk manusia yang islami harus dengan membentuk aqidah islam yang kokoh terlebih dahulu. Ilmu pengetahuan dalam Islam mengacu pada Al Quran dan Hadits. Al Quran dan Hadits menerangkap konsep dasar tentang ilmu pengetahuan, artinya konsep-konsep ilmu pengetahuan harus sejalan dengan Al Quran dan Hadits.
Kemudian bagaimana seharusnya sikap Islam dalam perkembangan sains?? Pastinya Islam mengajarkan umatnya untuk mengikuti perkembangan atau bahkan ikut serta dalam mengembangkan sain yang bermanfaat bagi umat manusia. Seorang ilmuwan yang mempunyai kepribadian yang sholeh tentunya memanfaatkan pengetahuannya untuk sesuatu yang berguna sesuai Aqidah Islam. Islam merupakan rahmatan lil alamin, konsep ini seharusnya diperlukan dalam pengembangan sains islam, artinya perkembangan sains oleh pemikir-pemikir Islam ditujukan untuk seluruh umat manusia, bukankah hal yang seperti itu dapat dijadikan dakwah Islam???
Konsep seperti ini seharusnya membuat Islam semakin kuat, jika saja para pemikir-pemikir Islam itu mau bersatu dalam ukhuwah islamiyah demi kemaslahatan umat. Kejayaan sains Islam dimasa lalu harusnya menjadi motivasi dan semangat untuk perkembangan sains Islam berikutnya. Bukankah banyak para pemikir-pemikir Islam terdahulu seperti Ibnu Sina, Ibnu Thufail dan masih banyak lagi yang seharusnya menjadi motivator pemikir Islam sekarang untuk berkembang lebih baik.
Proses menuntut ilmu tidak mengenal waktu, dan juga tidak mengenal gender. Pria dan wanita punya kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Sehingga setiap orang, baik pria maupun wanita bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita sehingga potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang diharapkan. Karena itulah, agama menganggap bahwa menuntut ilmu itu termasuk bagian dari ibadah. Ibadah tidak terbatas kepada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat. Bahkan menuntut ilmu itu dianggap sebagai ibadah yang utama, karena dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya dengan benar.
Ajaran agama Islam yang menekankan kewajiban menuntut ilmu tanpa mengenal gender. Karena menuntut ilmu sangat bermanfaat dan setiap ilmu pasti bemanfaat. Kalau kita dapati ilmu yang tidak bermanfaat, hal itu karena faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Sedangkan ilmu itu sendiri pasti sesuatu yang bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar